Jika berkunjung ke Pulau Batam, jangan lewatkan untuk singgah ke Pulau Galang. Pulau yang menjadi saksi bisu kisah hidup pengungsi Vietnam yang melarikan diri dari negaranya , akibat kejamnya perang Vietnam yang terjadi pada tahun 1975. Mereka melarikan diri dari negaranya dengan menggunakan kapal melalui perairan Laut China Selatan.  Setelah mengarungi  ganasnya lautan, sebagian dari pengungsi tersebut ada  yang mendarat di Indonesia yaitu Pulau Natuna,  Kepulauan Riau.  Selain mendarat di Indonesia, mereka juga mendarat di Singapura, Malaysia dan Thailand. Karena besarnya jumlah pengungsi , Organisasi Pengungsi PBB yaitu UNHCR memutuskan untuk menjadikan Indonesia sebgai tempat penampungan sementara dari para pengungsi Vietnam tersebut. Akhirnya UNHCR sepakat untuk menjadikan Pulau Galang di Indonesia sebagai tempat penampungan sementara dari para pengungsi yang setelah dikumpulkan jumlahnya mencapai  250 ribu orang.

 

Bagian pulau Galang seluas 80 ha dijadikan kamp pengungsi dan terpisah dari penduduk pulau Galang. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan, pengaturan, penjagaan keamanan disana.  Untuk pembiayaan, semua  ditanggung oleh PBB.  Untuk mengakomodasi kebutuhan para pengungsi, UNHCR dan Pemerintah Indonesia membangun berbagai fasilitas, seperti barak pengungsian, tempat ibadah, rumah sakit, dan sekolah.  Ketika perang berakhir pada tahun 1996 maka berakhir pulalah kamp pengungsi tersebut. Berangsur-angsur para pengungsi dipulangkan kembali ke Vietnam atau di Negara-negara yang menerima suaka mereka.

 

Peninggalan dari kamp pengungsi Vietnam sekarang menjadi obyek wisata andalan di Batam. Terdapat rumah-rumah peninggalan bekas pengungsi, patung dan monumen yang bisa dilihat oleh pengunjung.  Suasana haru pasti kita rasakan selama berkeliling di kampung Vietnam ini, mengingat bagaimana perjuangan mereka  sejak meninggalkan  Vietnam sampai akhirnya mempunyai kehidupan  sebagai pengungsi di negara orang.

 

–          Patung Kemanusiaan atau Humanity Statue,  Patung ini didirikan untuk mengenang kisah tragis dan memilukan seorang perempuan bernama Tinhn Han Loai yang mati bunuh diri karena diperkosa oleh sesama pengungsi.

 

–          Monumen Perahu,  terdiri atas tiga perahu yang digunakan para pengungsi ketika meninggalkan Vietnam.  Perahu-perahu ini sempat ditenggelamkan oleh para pengungsi yang kecewa karena tidak mendapat suaka. Tetapi kemudian diangkat kembali dan dipamerkan.

 

–          Berbagai tempat ibadah, Vihara Quan Am Tu, Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, gereja protestan, dan juga mushola.  Di dalam Vihara yang bercat warna warni terdapat tiga patung dan patung naga raksasa . Salah satu dari ketiga patung ini adalah Patung Dewi Guang Shi Pu Sha. Konon jika kita berdoa di depannya dan melempar koin maka doa kita akan terkabul.

 

–          Komplek pemakaman  Nghia-Trang Galang adalah tempat di kuburnya 503 orang pengungsi yang meninggal akibat wabah penyakit yang mereka bawa. Salah satu penyakit tersebut adalah penyakit kelamin Vietnam Rose.

 

–          Museum di  Kampung Vietnam dimana kita bisa melihat barang-barang peninggalan dan foto-foto penduduk dalam  Seribu Wajah Kenangan Camp Sinam Pulau Galang.

 

–          Bangunan bekas rumah sakit dan penjara.  Dua bangunan yang paling misterius dan kabarnya juga angker. Pada saat itu, pengeloaan penjara tersebut dilakukan oleh Brimob Indonesia.

 

Pulau Galang berjarak 50 km dari pusat kota Batam dan dapat ditempuh dengan kendaran pribadi  sedangkan  untuk kendaraan umum  dapat menggunakan Metro Trans atau angkutan umum di Kota Batam dari Jodoh dengan tujuan Galang.

Jangan lupa membawa makanan dan minuman yang cukup ya Piknikers,  karena di sini belum ada tempat makan dan berkunjunglah pada pagi atau siang hari supaya bisa menikmati  suasana pulau lebih lama.