Jepang memang memiliki banyak perayaan untuk menyambut pergantian musim, salah satunya adalah festival Tanabata yang diadakan untuk merayakan pergantian musim, perayaan panen dan perayaan datangnya musim panas di Jepang. Perayaan Tanabata mulai dikenal di Jepang sejak zaman Edo (1603-1867).

Menurut legenda, Tanabata dirayakan setahun sekali karena pada saat itulah pasangan suami istri bertemu. Adalah Putri Orihime, Putri Penenun dilambangkan dengan bintang Vega yang jatuh cinta kepada gembala sapi Hikoboshi dilambangkan dengan bintang Altair. Karena Hikoboshi rajin bekerja sehingga diizinkan Raja Langit untuk menikahi Orihime. Suami istri Hikoboshi dan Orihime hidup bahagia, namun sayangnya Orihime tidak lagi menenun dan Hikoboshi tidak lagi menggembala. Raja Langit sangat marah dan keduanya dipaksa berpisah. Orihime dan Hikoboshi tinggal dipisahkan sungai Amanogawa (galaksi Bima Sakiti) dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali pada hari ke-7 bulan ke-7. Kalau kebetulan hujan turun, sungai Amanogawa menjadi meluap dan Orihime tidak bisa menyeberangi sungai untuk bertemu suami. Sekawanan burung Kasasagi terbang menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang sedang bersedih dan berbaris membentuk jembatan yang melintasi sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa menyeberang dan bertemu. Kalau pada malam ke-7 di bulan ke-7 itu ternyata hujan turun deras, itu dipercayai sebagai airmata dari sang putri (Orihime) dan Hikoboshi yang tidak bisa bertemu.  Tiap hari ke-7 pada bulan ke-7 di tahun lunar tersebut mereka baru bisa bertemu satu sama lain. Oleh sebab itu Festival Tanabata dikenal juga dengan festival bintang.

Dalam perayaan Festival Tanabata ini, biasanya orang Jepang akan menuliskan permohonan di atas selembar kertas yang kemudian menggantungkannya bersama dengan dekorasi warna-warni di tangkai bambu. Jadi jika piknikers kebetulan berada d Jepang pada musim panas, bisa ikut merasakan kemeriahan perayaan Tanabata tersebut namun festival ini tidak serentak dilaksanakan di wilayah Jepang karena masing-masing wilayah di Jepang memiliki cara yang berbeda dalam memeriahkan walaupun tetap tentang dekorasi kertas, permohonan dan warna-warni. Di daerah pertanian, festival Tanabata dilangsungkan untuk mensucikan diri dalam menyambut Festival Obon.

Piknikersjuga bisa ikut bergabung dalam festival Tanabata tersebut bersama penduduk lokal dengan menyiapkan hiasan Tanzaku berupa guntingan kertas lima warna (merah, kuning, biru, kuning muda, dan putih) untuk dituliskan puisi-puisi pendek yang indah. Namun, biasanya masyarakat lokal juga senang menuliskan cita-cita dan permohonan di hiasan Tanzaku dengan harapan cita-cita dan permohonan yang

disampaikan dapat dikabulkan oleh dewa langit. Hiasan Tanzaku biasanya digantung pada dahan pohon bambu.

Tidak hanya berasal dari hiasan Tanzaku, kemeriahan Festival Tanabata juga dapat dinikmati melalui untaian pita-pita yang digantungkan pada bola kertas sebagai lambang benang tenun Putri Orihime.