Museum Layang-layang terletak di Jl. H. Kamang No.38 Pondok Labu Jakarta Selatan. Lokasinya yang tidak terlalu strategis bukan menjadi alasan untuk tidak berkunjung kesini, karena museum ini merupakan museum yang sangat menarik. Bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk kita semua.

Pemilik Museum Layang-layang bernama ibu  Endang Ernawati. Beliau adalah penggemar Layang-layang dan barang antik,  juga seorang pakar kecantikan yang menekuni dunia layang-layang sejak tahun 1985 dengan membentuk Merindo Kites dan Gallery yang  bergerak di bidang layang-layang. Berbagai festival layang-layang di dalam dan luar negeri telah diikuti beliau serta berhasil meraih juara dalam berbagai kejuaraan lomba layang-layang. Karena  rasa cintanya yang sangat mendalam terhadap Layang-Layang, beliau pun mendirikan Museum Layang-Layang pada tahun 2003. Jumlah koleksi layang-layang di museum ini berjumlah 600, namun jumlah tersebut terus bertambah seiring datangnya koleksi-koleksi baru dari para pelayang daerah dan luar negeri maupun layang-layang yang dibuat sendiri oleh karyawan museum.

Dari depan, museum ini tampak tidak terlalu besar, namun ternyata halaman museum ini sangat luas dan asri begitu masuk kedalamnya. Lantai halaman luar tampak berwarna-warni karena digambari lukisan layangan berbagai warna dan bentuk. Di halaman luas inilah biasanya anak-anak berlarian mencoba menerbangkan layang-layang buatan mereka sendiri.

Museum Layang-layang ini bisa menjadi pilihan yang bagus untuk mengenalkan konsep sebuah museum kepada anak-anak karena koleksi layang-layang dengan berbagai bentuk dan warna pasti akan menarik perhatian mereka. Apalagi kegiatan di Museum Layang-Layang tidak hanya melihat-lihat koleksi tapi juga menonton video tentang Layang-Layang  sampai belajar membuat dan melukis Layang-Layang. Kegiatan tambahan pun bisa dipilih, antara lain: membuat dan melukis keramik, melukis payung, melukis kaos, melukis wayang mini dan membatik.  (Khusus untuk kegiatan membatik, peserta minimal berjumlah 10 orang). Namun untuk kegiatan-kegiatan tambahan tersebut akan dikenakan biaya tambahan,  mulai dari Rp.35.000,- sampai Rp. 50.000,-/jenis kegiatan. Hasil karya mereka pun bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan hasil kunjungan mereka ke Museum Layang-layang.

Pengunjung museum akan ditemani oleh seorang pemandu yang menjelaskan sejarah dan latar belakang cerita dari setiap koleksi layang-layang.. Ada layang-layang dari Kalimantan Selatan yang kalau terbang harus sepasang dan kedua layang-layang ini pun digantungi alat-alat musik mirip suling, sehingga ketika sepasang layangan ini diterbangkan akan mengeluarkan suara-suara musik. Ada juga layangan pengantin, yang diterbangkan ketika upacara adat pernikahan, sehingga penduduk sekitar bisa mengetahui bahwa ada acara pernikahan di desa tetangga ketika melihat pasangan layang-layang itu terbang di udara.

Layang-layang yang dikoleksi museum ini tak hanya berasal dari Indonesia saja, tetapi juga mengoleksi layang-layang dari berbagai negara, contohnya Tiongkok, Jepang, Belanda, Vietnam dan beberapa negara lainnya. Mulai dari layang-layang miniatur yang berukuran 2 sentimeter, hingga yang berukuran besar. Bahkan museum ini memiliki beberapa layang-layang berukuran raksasa terbesar di tanah air seperti “Megaray” berukuran 9 x 26 meter.

Selain Museum Layang-layang, di kompleks museum ini juga ada lokasi pembuatan layang-layang untuk keperluan kegiatan festival yang disebut Rumah Budaya. Bila kita berkunjung saat musim festival, kita bisa lihat bagaimana proses pembuatan layang-layang berbagai bentuk dan warna itu dibuat.

Sebelum berkunjung, sebaiknya telepon dulu ke 021-7658075 / 021-7505112 untuk menanyakan apakah ada kunjungan rombongan atau tidak di hari kita akan berkunjung. Dan jangan lupa membawa bekal makanan dan minuman, karena di museum hanya terdapat penjual minuman.

Untuk info lebih lengkap bisa berkunjung ke website Museum Layang-Layang disini

Sumber 1

Sumber 2