Sejak beberapa tahun belakangan, taman Fatahillah menjadi obyek wisata keluarga yang selalu ramai dikunjungi terlebih di saat akhir pekan.

Pesona taman yang luas dengan kekhasan suasana zaman Belanda tempo dulu mempercantikan tampilan. Maka tidak jarang para anak muda kaum generasi Milenial dan generasi Z mengabadikan latar belakang taman Fatahillah melengkapi postingan instagram mereka atau sekadar mengabadikan aktivitas seperti menonton atraksi sulap , menaiki sepeda dan mengitari sekitar alun-alun atau bahkan mengunjungi pameran yang diadakan oleh pemerintah maupun swasta.

Namun ternyata taman Fatahillah menyimpan sejarah Indonesia dan Jakarta yang cukup mencengangkan pula loh, piknikers.

Taman Fatahilah Jakarta ini telah menjadi saksi bisu peristiwa pembantaian para etnik warga Tionghoa.

Jadi, pada masa penjajahan Belanda Museum Sejarah Jakarta atau yang sering dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah merupakan sebuah gedung pemerintahan Belanda. Seperti kebanyakan gedung gedung yang berasitektur gaya Eropa, di depan gedung selalu terdapat taman atau alun alun. Begitu pun Museum Fatahillah ini, dahulunya memiliki area taman yang cukup luas. Taman Fatahillah saat ini hanyalah sebagian kecil dari alun alun yang ada dulu.

Pada sekitar tahun 1740, taman Fatahillah dijadikan tempat pembantaian terhadap 10.000 warga Tionghoa yang tinggal di daerah Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda yang dilakukan dalam kurun waktu satu minggu. Pada masa itu masyarakat Tionghoa dikenal memiliki sifat yang santun serta ulet, sehingga dengan mudah untuk berbaur dan berteman baik dengan warga lokal Batavia. Namun itu membuat kuatir pihak pemerintah Hindia Belanda. Kedekatan tersebut dianggap berbahaya karena Hindia Belanda takut jika warga lokal Batavia akan lebih bersimpati kepada orang Tionghoa. Selama sekitar seminggu lamanya, masyarakat Tionghoa mulai ditangkap, mulai dari Bekasi hingga Tanjung Priok. Pemerintah Hindia Belanda menghabiskan seluruh kaum Tionghoa mengantisipasi adanya pemberontakan dari kaum Tionghoa.

Pembantaian terjadi di Taman Fatahillah, dengan beragam cara mulai dari penembakan dengan senapan hingga pedang. Mayat yang sudah bergelimpangan dibuang ke sungai. Inilah awal hadirnya nama Muara Angke. Dari bau bangkai yang dikeluarkan oleh potongan tubuh yang dibuang tersebut.

Selain menjadi tempat pembantaian taman Fatahillah Jakarta menjadi tempat untuk menghukum para tahanan pribumi pemerintah Belanda. Biasanya, pengumuman hukuman berlangsung pada pagi hari, dan eksekusi dilakukan pada sore hari. Dalam Museum pun masih ada pedang algojo yang menjadi alat untuk mengakhiri nyawa para tahanan tersebut.

Mudah-mudahan peristiwa tersebut tidak pernah terjadi lagi dan tidak akan terjadi lagi. Mungkin setelah ini piknikers sekalian akan lebih meresapi, menjaga dan menghargai nilai-nilai sejarah taman Fatahillah dengan terus menjaga keharmonisan antar suku,ras dan agama ya piknikers.

Happy travelling!

Sumber 1

Sumber 2