Sejak jalan tol Cipali beroperasi menghubungkan Cikampek – Palimanan, perjalanan Jakarta menuju Cirebon menjadi lebih singkat.  Tetapi kali ini perjalanan menuju Cirebon akan ditempuh PiknikAsik dengan naik kereta api. Kereta pertama Cirebon Ekspress berangkat jam 6 pagi dari Gambir dan ditempuh selama 3 jam sehingga  sampai di Cirebon pukul  9 pagi.

Saatnya mengisi perut, mari menuju Nasi Lengko Pak Barno, untuk menikmati sepiring nasi lengko dan seporsi sate kambing. Tidak lupa mampir ke gang tempat ibu Lena jualan Kue Tapel. Kue tapel ini bentuknya seperti kue dadar, masih hangat dengan kulit seperti  crepes tetapi dari capuran terigu dan kelapa dengan isi potongan pisang dan gula merah cair.

Setelah perut kenyang,  tujuan selanjutnya adalah Keraton Kanoman yang terletak di Jl. Winaon Kampung Kanoman, Kanoman, Lemahwungkuk,  Jalan masuknya melewati  pasar Kanoman yang ramai.

Di dalam museum keraton terdapat kereta kencana Paksi Naga Lima, yang dibuat pada tahun 1428. Dari bentuk dan namanya, terlihat bahwa sejak dulu kebudayaan Cirebon dipengaruhi 3 budaya, yakni Cina, Hindu, dan Islam. Bentuk naga diadaptasi dari kebudayaan Cina. Sayap di kedua sisinya, yang melambangkan burung, atau paksi, merupakan pengaruh dari budaya agama Islam.

Sementara gajah, atau lima, pengaruh dari budaya agama Hindu. Paksi Naga Lima yang terbuat dari kayu sawo, khusus dibuat Pangeran Losari, cucu Sunan Gunung Jati, untuk sang kakek. Paksi Naga Lima biasanya digunakan pada saat penobatan sultan. Selain kereta kencana, masih banyak barang peninggalan Kesultanan Cirebon, yang tersimpan di Museum Keraton Kanoman. Baik yang berasal dari peninggalan Sultan Cirebon, maupun dari pemberian pemerintah Belanda dan Inggris, berupa keris-keris dan meriam-meriam buatan Portugis.

Tujuan selanjutnya adalah Keraton Kasepuhan, yang keadaannya jauh lebih baik dan lebih luas dari Keraton Kanoman.  Terletak di Jl. Kasepuhan No.43, Kesepuhan, Lemahwungkuk.

Keraton Kasepuhan dibangun sekitar tahun 1529 sebagai perluasan dari Keraton tertua di Cirebon, Pakungwati, yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon pada 1445. Keraton Pakungwati terletak di belakang Keraton Kasepuhan.

Isi dari keraton Kasepuhan ini tidak terlalu jauh berbeda dari keraton Kanoman, terdapat kereta kencana yang bernama kereta kencana Singa Barong terakhir digunakan pada Tahun 1942, juga ada tandu untuk putri raja, senjata pusaka, meriam kuno, kotak besi berhiaskan kulit mutiara. Tak ketinggalan singgasana raja dengan latar bendera berwarna-warni. Terdapat juga sumur dengan mata air yang tidak pernah kering dan kolam dengan mata air yang warnanya, konon menurut  tour guide, bisa berubah-ubah. Saat dilihat air sumur berwarna  pink, katanya bisa hijau atau bening juga. Ada pula sumur yang bernama Petilasan Pangeran Cakra Buana Sunan Gunung Jati, dimana wanita dilarang masuk. Pernah ada yang nekat masuk dan berakhir dengan kesurupan. Hiii… seram juga ya.

Puas menjelajah keraton, tibalah saatnya makan dan pilihan kali ini adalah Mie Koclok Panjunan beserta emping sebagai pelengkapnya. Rasa emping yang agak manis bercampur dengan gurihnya kuah mie koclok menjadi perpaduan yang sempurna.

Usai makan, mampir untuk sholat di mesjid merah Panjunan yang berlokasi dekat mie koclok dan merupakan bangunan bersejarah di Cirebon.  Disebut Masjid Merah karena masjid yang terletak di Jalan Kolektoran Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon ini seluruh bagian dindingnya berwarna merah. Dari awal pembangunan, masjid ini dibuat dari konstruksi batu bata berbahan dasar tanah merah. Seluruh bagian dinding dari batu bata merah ini kemudian dilapisi dengan adonan tanah merah. Dengan tampilan warna merah yang khas, membuat masjid yang waktu didirikan diberi nama Al-Athiyyah ini, sering disebut juga Masjid Abang Panjunan. Masjid ini dibangun sekitar tahun 1.480 M oleh Pangeran Panjunan, salah seorang ulama besar masa Sunan Gunung Jati. Umurnya sudah lebih dari 500 tahun, masjid ini lebih tua dari keberadaan Masjid Demak, bahkan lebih kuno dibandingkan Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Alun-alun Keraton Kasepuhan Cirebon.

Toko Manisan Shinta, menjadi tujuan selanjutnya untuk membeli oleh-oleh. Berbagai jenis manisan dijual di toko ini, ada juga sirup dan berbagai macam makanan kering, ikan kering dan lain-lain. Pokoknya lengkap.

Karena masih ada waktu sebelum kereta pulang jam 6 sore, mampir dulu ke pelabuhan Cirebon yang sepi. Hanya ada beberapa kapal yang sedang bersandar dan aktifitas yang kelihatan hanya kesibukan kapal pengangkut batu bara. Sebelum ke stasiun masih sempat makan es durian. Masih di sekitar mesjid Panjunan .

Untuk penyuka durian, es durian Cirebon tidak boleh dilewatkan karena berbeda dari es duren di Jakarta.  Es puter yang lembut dengan toping daging durian yang diberi kucuran sirup merah.  Awas! Bisa membuat Piknikers ketagihan.

Akhirnya saatnya pulang, kereta cirebon ekspres ke Jakarta, berangkat tepat jam 6 sore dan tiba di Jakarta jam 9 malam.  Masih banyak lokasi yang belum di datangi seperti Gua Sunyaragi dan Batik Trusmi, serta wisata kuliner yang lain, empal gentong, nasi jamblang, docang dan ada pula tempe mendoan isi yang nikmat.