Bali yang mempersona tidak hanya mempunyai pantai-pantai cantik yang menawan, ada salah satu desa di Bali yang patut Piknikers kunjungi.  Nama desa tersebut adalah Desa Penglipuran, yang terletak di kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli- Bali, 45 km dari Denpasar, tidak terlalu jauh dari Kintamani atau Gunung Batur. Desa Penglipuran terletak di ketinggian 700 m dan luas 112 ha. Desa Penglipuran ini selain mendapatkan penghargaan Kalpataru, juga ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah Kabupaten Bangli pada tahun 1995. Desa yang unik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

 

Menurut masyarakat sekitar, kata penglipuran diambil dari kata Pengeling Pura yang memiliki makna tempat suci yang ditujukan untuk mengenang para leluhur. Masyarakat yang tinggal di desa ini sangat menjunjung tinggi amanat dari para leluhur mereka. Ciri khas yang sangat menonjol adalah arsitektur bangunan tradisional di desa  ini yang sama persis dari ujung desa ke ujung lainnya.

 

Keunikan ini membuat desa Penglipuran sangat indah dengan kesimetrisan yang amat tertata rapi antara 1 rumah dengan rumah lainnya. Pintu gerbang di setiap rumah saling berhadapan satu sama lain yang hanya di batasi oleh jalan utama kecil di tengahnya. Pintu gerbang ini disebut dengan Angkul-angkul (Pintu gerbang khas bali) yang juga memiliki arsitektur sama dengan angkul-angkul setiap rumah di desa ini. Jalan utama yang ada di desa penglipuran mengarah pada bagian utama desa yang berada di puncak paling tinggi. Di sekitar pintu gerbang masuk desa terdapat area yang dinamakan Catus Pata yang merupakan area yang terdiri dari balai desa, fasilitas masyarakat, dan ruang terbuka hijau berupa taman yang asri. Penataan fisik dari desa ini sudah diwariskan secara turun temurun oleh para leluhur mereka, masyarakat di desa penglipuran selalu memegang teguh filsafat bali yang disebut dengan ‘falsafah Tri Hitakarana’. Falsafah ini mengajarkan kita untuk selalu mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan sesama, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan.

 

Untuk masuk ke kawasan Desa Penglipuran,  tidak diperbolehkan untuk menggunakan mobil ataupun sepeda motor. Kendaraan  harus parkir di sebuah lahan yang cukup luas dan tidak jauh dari kawasan desa.

Sumber 1