Rencanakan liburan piknikers dengan pilihan liburan yang tidak hanya mengasyikkan juga berkesan dan memberikan khazanah budaya kepada keluarga dan diri sendiri. Kenapa tidak coba liburan ke desa wisata Penglipuran. Desa wisata yang berada di kabupaten Bangli ini bisa memberikan piknikers dan keluarga suasana kerukunan antar masyarakat di Bali.

Kata penglipuran diambil dari kata Pengeling Pura yang memiliki makna tempat suci yang ditujukan untuk mengenang para leluhur. Tidak mengherankan bahwa masyarakat desa Penglipuran tetap menjaga kerukunan dan kelestarian alamnya hingga tahun 1995, pemerintah Bangli menetapkan desa Penglipuran sebagai desa wisata.

Apa saja aktivitas yang piknikers bisa lakukan di desa wisata Penglipuran?

Sekarang ini sudah banyak jasa perjalanan yang memiliki jadual kegiatan ke desa wisata Penglipuran seperti aktivitas alam outbond, tur wisata 2 hari satu malam merasakan kehidupan di desa wisata Penglipuran dan Kintamani dan bahkan paket menginap di homestay dan guest house yang dibuat khusus untuk pengunjung agar bisa merasakan langsung kehidupan masyarakat desa wisata Penglipuran.

Tertarik, piknikers?

Tertarik untuk berkunjung ke desa wisata Penglipuran, jika piknikers menggunakan kendaraan pribadi dan berkunjung sendiri tanpa menggunakan jasa agen perjalanan, sebagai informasi bahwa piknikers tidak diperbolehkan untuk menggunakan mobil ataupun sepeda motor. Kendaraan harus diparkirkan di sebuah lahan parkir yang cukup luas dan tidak jauh dari kawasan wisata desa penglipuran. Untuk dapat masuk ke Desa ini, piknikers diwajibkan untuk membayar biaya masuk kemudian baru dapat menyaksikan betapa indahnya kerukunan yang terjalin antar keluarga di desa ini.

Jika piknikers ingin berwisata ke desa ini, dianjurkan untuk berwisata menjelang hari raya galungan atau setelah hari raya galungan. Ketika hari itu, piknikers bisa menyaksikan jejeran penjor (Sarana umat hindu berupa pohon bambu panjang beserta ujungnya yang dihiasi dan ditancapkan di depan pekarangan rumah) yang menghiasi setiap rumah di desa ini juga ada gadis-gadis bali berpakaian adat bali yang membawa banten menuju pura. Hari raya galungan adalah hari raya besar agama hindu di bali yang diperingati setiap 6 bulan sekali.

Tidak hanya suasana desa yang bisa menetramkan jiwa tetapi juga pengaturan rumah-rumah penduduk dan desa yang mampu membawa piknikers kembali ke masa silam. Tentu saja ini disebabkan karena masyarakat setempat yang masih memegang teguh falsafah bali “Tri Hitakarana” yang mengajarkan untuk selalu mengharmonisasikan hubungan antara manusia dan sesama. Falsafah yang diterapkan dalam penataan desa tersebut diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat desa Penglipuran.

Sumber 1

Sumber 2