Museum Abdul Haris Nasution atau tepatnya Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution adalah salah satu museum pahlawan nasional yang terletak di jalan Teuku Umar No. 40, Jakarta Pusat. Museum ini semula adalah kediaman pribadi dari Pak Nasution yang ditempati bersama dengan keluarganya sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000. Selanjutnya keluarga Nasution pindah rumah pada tanggal 29 Juli, 2008 sejak dimulainya renovasi rumah pribadi tersebut menjadi museum.

 

Di tempat ini  pada tanggal 1 Oktober, 1965 telah terjadi peristiwa dramatis yang hampir merenggut nyawa Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution. Pasukan Tjakrabirawa G-30S/PKI berupaya menculik dan membunuh beliau, namun hal ini gagal dilakukan. Dalam peristiwa tersebut, putri kedua Nasution, Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean gugur.

 

Dalam rangka peringatan 1 Oktober sebagai hari Kesaktian Pancasila, PiknikAsik mengunjungi  Museum ini dan menelusuri ruang demi ruang saksi bisu sejarah kelam masa lalu.

 

Di arah jalan HR Rasuna Said, memasuki Jalan Teuku Umar posisi museum terdapat di sebelah kiri jalan. Tulisan Museum Jenderal Besar A. H. Nasution  tampak jelas di tembok yang dicat hitam. Ukiran lambang TNI AD mengapit tulisan itu. Di balik pagar berdiri patung Jenderal Nasution dalam posisi kedua tangan di belakang pinggang. Posisi istirahat. Dua meriam berada di kiri dan kanan patung setinggi dua meter itu. Patung dikeliling taman berbentuk setengah lingkaran

Saya parkir mobil di halaman, masih sepi karena jam baru menunjukkan pukul 11 siang.  Saya melangkah masuk ke bangunan utama yang merupakan rumah Nasution.  Bentuknya tak berubah sejak peristiwa G30S yang menewaskan Ade Irma Suryani, putri bungsu Nasution.

 

Di sisi kiri rumah utama, ada garasi beratap genteng yang ditopang empat tiang kayu. Di sebelah kiri garasi, ada bangunan lain­nya. Lebih kecil dari bangunan utama. Pintunya menghadap ke jalan raya.  Tempat ini dulunya ditinggali ajudan Lettu Pierre Tendean. Pierre dibawa penculik ke Lubang Buaya,  karena mengaku sebagai Nasution pada malam itu.

 

Begitu kita memasuki bagian depan rumah langsung disambut oleh patung setengah badan  Pak Nasution.  Di belakangnya, terdapat  gading gajah yang merupakan kenang-kenangan dari Brigade Garuda III. Tepat di belakangnya, ada batu pualam berukuran 1 x 1 meter. Di atasnya ada tanda ta­ngan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat meresmikan museum ini pada 3 Desember 2008, bertepatan dengan hari lahir Nasution.

Melihat dari pintu masuk di sebelah kanan ada kursi dan meja antik kayu. Ini adalah kursi favorit sang jenderal.  Di atasnya menggantung lampu hias antik. Di pojok kiri dan kanan ruang tamu juga diletakkan lemari hias kaca. Isinya berbagai macam plakat dari luar negeri. Di dinding kayu ruangan ini terdapat empat foto Pak Nas panggilan akrab Jenderal Nasution.

 

Ruang kedua, adalah ruang kerja Pak Nas. Setelah memasuki ruang tamu, pengunjung harus melintasi ruang kerja agar bisa melihat ruangan lainnya. Di dinding terdapat ijazah yang dibingkai semasa Pak Nas masih kuliah. Di pojok ruang kerja terdapat lemari berisi buku.

 

Belok kiri dari ruang kerja, kita akan menemukan ruang ketiga. Yakni, Ruang Kuning. Dinamakan ruang kuning karena Pak Nas mendesain ruangan ini dengan dominasi warna kuning baik cat, tembok, karpet, dan gordennya. Di sinilah Pak Nas menerima tamu-tamunya baik dari dalam dan luar negeri.

 

Keluar dari Ruang Kuning ter­dapat sebuah lorong. Lebarnya se­kitar 1 meter. Di sebelah kanan tembok, menempel foto kenang-kenangan Pak Nas bersama sang istri dan beberapa pejabat negara. Di antaranya foto Pak Nas bersa­laman dengan Suharto dan foto Pak Nas bersama sang istri ditemani Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan Titik Suharto.

Tak jauh dari foto-foto itu, kita akan menemukan pintu menuju ruang ketiga yakni Ruang Tidur. Posisi ruang tidur Pak Nas tepat di sebelah kanan. Ruang ini me­rupakan saksi bisu kekejaman G30S/PKI pada tanggal 30 September 1965.

 

Di ruangan ini masih terlihat bekas tembakan pasukan Tjakrabirawa yang mengenai pintu, tembok serta meja di dalam kamar. Di dalam kamar tersebut juga ditampilkan beberapa koleksi pakaian dan alat kesehatan yang digunakan Nasution. Selanjutnya, kita bisa melihat diorama Nasution menyelamatkan diri dari penculikan. Nasution melompati tembok kediaman Duta Besar Irak disaksikan sang istri dan anaknya Ade Irma Suryani yang berlumuran darah. Diorama berada di ruangan seragam Angkatan Darat atau ruang Gamad.

Tak hanya itu, diorama istri Nasution, Yohana Sunarti yang akan menghubungi Pangdam Jaya Umar Wirahadikusuma sambil menggendong Ade Irma Suryani juga ada di ruang makan. Bahkan, telepon yang akan dipakai masih tetap berada di tempatnya. Lengkap dengan pasukan Tjakrabirawa yang senjata mengarah senjata ke istri sang Jenderal.

Di seberang kamar Pak Nas merupakan ruang keempat. Ruangan ini dinamakan Ruang Senjata koleksi Pak Nas. Awalnya ruang ini adalah ruang tidur putri sulung Pak Nas, Hedrianti Sahara Nasution. Menurut info dari tour guide siang itu, senjata yang paling depan adalah senjata yang digunakan saat menembak Ade Irma Nasution. Orang yang menembakannya adalah Kopral Dua (Kopda) Hargiono, anggota Pasukan Tjakrabirawa.

 

Setelah kamar Pak Nas, kita akan menemukan kamar kelima yakni Ruang Ade Irma. Posisinya tepat di sebelah kanan, bersebelahan dengan kamar Pak Nas. Disediakan sebuah pintu yang menghubungkan Ruang Tidur Pak Nas dengan ruang tidur putri bungsunya itu.

Di dalam ruang tidur itu ter­pampang benda-benda kesayangan Ade, yaitu sebuah baju seragam Kowad mini, tas kulit kecil, sepatu, tempat minum dan boneka. Di ruangan ini dipajang juga beberapa foto dan lukisan ber­gambar Ade.  Benda bersejarah lainnya yang dipajang adalah baju yang di­pakai oleh Ade Irma saat tragedi penembakan.

Ruang keenam adalah Ruang Gamad (Ruang Seragam Angkatan Darat).

Ruang Makan adalah ruang ketujuh. Ruang terakhir adalah Ruang Heraldika. Posisinya ber­sebelahan dengan Ruang Makan. Berbagai plakat kenang-kenangan dari berbagai kesatuan TNI, tiga panji serta sebuah bendera merah putih. Bendera itu digunakan Pak Nas yang saat itu Ketua MPRS untuk melantik Soeharto menjadi presiden menggantikan Sukarno.

Di halaman rumah bagian belakang, kita dapat menyaksikan mobil Volvo peninggalan pak Nasution. Di depan dan belakang mobil itu terdapat tanda bintang lima. Mobil tersebut merupakan pemberian BJ Habibie ketika Nasution dianugerahi sebagai Jenderal Besar pada 5 Oktober 1997.

Bagi yang ingin berkunjung :  Museum ini terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga hari Minggu, dari pukul 08:00 hingga pukul 14:00 WIB dan tutup setiap hari Senin.