Halo, piknikers, bagaimana hari-hari yang dijalani? Penat dan stress menghadapi setumpuk kerjaan atau tugas kuliah? Sering uring-uringan atau jadi gampang pelupa? Mungkin piknikers telah terjangkit penyakit yang sedang ngetren saat ini, Kurang Piknik. Nah, PiknikAsik mewaspadai #KurangPiknik menjadi wabah yang berat makanya pada bulan Oktober ini, PiknikAsik mengusung tema #KurangPiknik.

Obrolan PiknikAsik dengan profil bulan Oktober ini adalah seseorang yang tidak asing di dunia travelling, beliau telah menjadi wartawan KOMPAS, salah satu media nasional, sejak tahun 1997 ,telah menerbitkan buku “Backpacking hemat ke Australia” dan tidak kalah kerennya lagi adalah beliau merupakan pendiri komunitas travelling terbesar di Indonesia yaitu Backpacker Dunia, dengan beranggota 106,376 member ( dan masih akan terus bertambah!), bisa tebak siapakah beliau? Yup! Betul sekali, beliau adalah Elok Dyah Messwati.

Grup Backpacker Dunia yang telah menginspirasi anak-anak muda jaman now dan bahkan kaum senior untuk berpetualang dan berani menantang diri sendiri untuk pergi ke negeri idaman dengan budget sesuai kantong, mengajak untuk tidak kurang piknik tanpa menguras kantong. Tapi sejak kapan sik dan kenapa Ibu Elok Dyah Messwati ini tetap bisa mencintai dunia travelling di tengah-tengah kesibukannya dan apa pendapatnya tentang wabah #KurangPiknik yang melanda bangsa Indonesia.

Yuk, disimak percakapan antara PiknikAsik dengan bu ELok Dyah Messwati ini :

  1. Sejak kapan jadi suka travelling dan kenapa jadi suka? Sejak kapan berkecimpung di dunia travel? Selain di BD dan CS -menurut info yg saya baca bu Elok aktif di Couchsurfing dan pernah jd wartawan di KOMPAS.
  • Saya travelling sendirian sejak SMP, berkeliling kota-kota di pulau Jawa, kemudian Sumatera, Kalimantan, dll hingga lulus kuliah, lalu baru ke luar Indonesia. Saya suka travelling karena suka tempat-tempat baru, kebudayaan, bahasa, hal-hal yang unik. Couchsurfing itu CS. Ya, sering menerima backpacker dari luar Indonesia via CS ini. Sampai sekarang saya masih wartawan Kompas sejak 1997.

 

  1. Seberapa penting piknik (travelling ) buat seorang bu Elok? Dan piknik asik versi bu Elok kayak gimana sik?
  • Travelling itu untuk refreshing, menyegarkan diri saya dari penatnya aktivitas sehari-hari. Dengan jalan-jalan, kembali ke Jakarta, mind-body-soul saya jadi lebih segar.
  • Piknik asik itu yang menyenangkan saya, misal ke tempat-tempat baru, tidak mengulang ke tempat yg pernah saya kunjungi, mendapat kejutan-kejutan baru atau hal-hal baru. Seperti naik ke Jungfraujoch di Swiss, ke ice cave di Werfen Austria, ke Santorini Yunani, itu tempat baru dan hal-hal baru bagi saya. Ada curiosity di tempat baru.

 

  1. Bagaimana seorang Bu Elok mengelola stres itu ,apakah dengan perbanyak piknik? Pengaruh kurang piknik terhadap performa kerja dan hidup apa sik? Keuntungan sering piknik itu apa aja menurut bu Elok.
  • Mengelola stres tidak hanya dengan piknik atau travelling karena juga terkait kebebasan waktu dan dana. Cara agar terhindar dari stress yang saya lakukan biasanya dengan meditasi, menyayangi jiwa dengan mendengarkan enchanting Hawaiian kuno: Ho’oponopono (cek ke YouTube) ya. Ini penting bagi saya agar fisik dan psikis seimbang. Kalau fisik sakit, pusing, berdarah, kita segera sibuk cari obat merah, obat pusing dll, tapi kalau jiwa yang stress tertekan, kadang kita tidak peduli… Jadi mendengarkan itu membuat saya balance.
  • Pengaruh kurang piknik dengan performa kerja bisa jadi terkait, bisa juga tidak. Tergantung bagaimana kita menyikapi keadaan kita. Tidak harus setiap kali stress dengan pekerjaan, kita lalu butuh piknik ke luar kota. Bisa jadi jalan di sekitar perumahan kita, melihat kehijauan, kita sudah bisa lepas dari stress itu. Begitu pun dengan diam sejenak, bersantai di ranjang, sofa, mendelete hal-hal negatif di otak kita di saat sedang dalam gelombang otak theta, lalu menginstall atau afirmasi hal-hal positif ke otak bawah sadar kita, itu juga menjadi cara murah untuk lepas dari stress dan tentunya akan memperbaiki performa kita.
  • Keuntungan sering piknik, selain fisik merasa segar, kita pun belajar banyak hal dari daerah, kota-kota atau negara-negara yang kita kunjungi. Hal positif kita serap dan terapkan dalam hidup sehari-hari, misal disiplin buang sisa sampah dari tray di restoran cepat saji, ini contoh baik yang bisa ditiru. Kalau di Indonesia, pelanggan biasanya meninggalkan tray di meja begitu saja. Atau bisa juga meniru disiplin menyebrang di zebra cross atau jembatan penyeberangan, tidak nyelonong asal nyebrang di jalanan.

 

Ternyata menurut Elok Dyah Messwati, stress itu bisa dikelola dengan tetap menjaga kestabilan diri, salah satunya dengan piknik, mencoba ke tempat-tempat baru yang mengundang rasa penasaran untuk berkunjung ke sana. Tidak pernah salah untuk keseringan piknik, karena keseringan piknik berefek samping yang membawa hal positif ke dalam hidup sehari-hari.

Nah, bagaimana piknikers? Masih tetap mau #KurangPiknik? Ga rugi juga loh untuk sering piknik?

Untuk rekomendasi destinasi-destinasi oke dan keren, pastikan kamu baca reviu-reviu PiknikAsik yak, piknikers!

 

Mau sering piknik, ya baca PiknikAsik!