Jika berkunjung ke kota Solo, Jawa Tengah, jangan lewatkan berkunjung ke dua bangunan candi yang terletak di lereng gunung Lawu, yaitu candi Sukuh dan candi Cetho. Ke dua bangunan candi ini memiliki sejarah yang unik dan karena letaknya di pegunungan pemandangan yang indah sungguh memanjakan mata.

Candi Sukuh merupakan candi Hindu dan terkenal sebagai candi kesuburan karena ada lambang lingga dan yoni yang melambangkan alat kelamin pria dan wanita. Ditemukan pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta, yang melakukan penelitian atas penugasan Thomas Stanford Raffles, untuk melengkapi data-data buku yang ditulisnya, History of Java.

Terdapat tiga bagian bangunan pada komples candi ini, bagian pertama yaitu gapura utama atau disebut gapura Buta Abara Wong dimana di sinilah terletak lambang lingga yoni tersebut. Bagian kedua berupa teras dengan gapura yang sudah tidak utuh lagi dengan beberapa patung-patung. Sedangkan pada teras ketiga terdapat pelataran besar dengan candi induk yang dihiasi relief-relief. Untuk menuju ke atas pelataran candi harus melalui tangga yang lumayan tinggi dan curam. Bentuk candi ini sekilas menyerupai bangunan suku Maya di Meksiko atau Suku Inca di Peru.Karena pada saat candi tersebut dibuat masa kejayaan Hindu sudah mulai berakhir dan budaya asli Indonesia jaman megalitik mulai tampak lagi.

Candi Cetho terletak lebih tinggi lagi dari Candi Sukuh, dan perjalana ke sana memakan waktu sekitar 30 menit dengan melalui jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan pegunungan yang indah. Pada Candi ini, terdapat 13 teras yang semuanya harus dilalui dengan menanjak alias naik tangga. Bentuk bangunan candi ini mempunyai kesamaan dengan Candi Sukuh yang dibangun berteras sehingga mengingatkan akan bentuk punden berundak pada jaman prasejarah. Menurut keterangan yang terdapat di dalam candi, pernah dilakukan pemugaran atas candi ini tanpa memperhatikan konsep arkeologi sehingga hasilnya tidak dapat dipertanggunjawabkan secara ilmiah. Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1842 oleh Van der Vils dan diteliti lebih lanjut oleh Dinas Purbakala pada tahun 1928. Di bagian timur candi terdapat Arca Dewi Saraswati yang merupakan sumbangan dari Kabupaten Gianyar di Bali, untuk upacara bagi penganut agama Hindu. Selain candi Cetho, ada candi lain yang bernama Candi Kethek (kera dalam bahasa Jawa), tetapi lokasinya agak jauh.

Selain Candi, tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Solo tanpa mampir ke Keraton Surakarta atau Keraton Solo.
Di dalam kompleks keraton, terdapat Museum Keraton Surakarta yang sekaligus menjadi pintu masuk utama. Museum Keraton Surakarta memiliki beragam koleksi seperti kursi, payung, senjata, foto-foto raja, arca kuno, wayang, gamelan, diorama upacara-upacara adat, dan lain-lain.

Halaman Keraton Surakarta sendiri sangat unik karena berupa tanah pasir yang diambil dari Pantai Selatan dan Gunung Merapi. Deretan pohon sawo kecik yang tumbuh di halaman ini menjadikan suasana rindang dan asri. Sawo kecik yang ditanam pada masa pemerintahan Paku Buwono X (1893-1939) ini berjumlah 76 batang, konon merupakan sebuah ramalan tentang Kemerdekaan Republik Indonesia menurut hitungan jawa. Di halaman tengah keraton terdapat sumber air tempat lokasi bertapa yang airnya, konon disucikan. Bisa diminum atau dipakai cuci muka.

Di utara pelataran Keraton Surakarta/Keraton Solo, terdapat sebuah bangunan bernama Panggung Songgo Buwono. Menara berketinggian lebih kurang 30 meter tersebut berbentuk segi delapan dengan tutup saji diatasnya. Paku Buwono III (1749-1788) mendirikannya sebagai tempat meditasi raja dengan Ratu Pantai Selatan. Sebenarnya fungsi menara tersebut sebagai tempat mengintai gerak gerik Belanda yang berpusat di Benteng Vastenburg dan sekitarnya.

Bagian lain Keraton Surakarta/Keraton Solo yang tak kalah bersejarah adalah Sitihinggil. Beberapa bangunan yang ada di kompleks Sitihinggil adalah Bangsal Sewayana yang merupakan bangsal terdepan berbentuk aula besar sebagai tempat para bupati dan punggawa kerajaan menghadap raja-raja Surakarta. Kawasan lain yang menarik di Keraton Surakarta lainnya adalah nDalem Purwodiningratan yang usianya lebih tua dari keberadaan Keraton Surakarta.

Keraton Surakarta terletak tak jauh dari Alun-alun utara Surakarta yang berada di ujung Jl. Slamet Riyadi, Solo, tepatnya di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon. Jangan lewatkan kuliner Solo sehabis berkunjung ke Keraton ya, Piknikers.