Jika berkunjung ke Semarang tidaklah lengkap jika Piknikers tidak berkunjung ke klenteng Sam Po Kong. Icon kota Semarang ini memang mengagumkan karena merupakan kompleks tempat ibadah dengan luas hampir 1000 meter persegi. Menelusuri setiap sudut klenteng kita akan dibawa pada sejarah masa lalu dimana seorang Laksamana Tiongkok yang bernama Cheng Ho mendarat untuk pertama kali.
Perjalanan jauh ditempuh Laksamana Cheng Ho dari negara asalnya di Cina. Ketika kapal mereka sampai di pulau Jawa ada seorang awak kapalnya yang sakit, namanya Wang Jinghong atau juga dikenal sebagai Kiai Juru Mudi Dampo Awang. Laksamana Cheng Ho yang peduli dengan awaknya pun meminta untuk membuang sauh, agar kapal bisa berlabuh dan awak kapalnya bisa beristirahat. Ternyata mereka membuang sauh di kota Semarang. Setelah mendarat Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam, kemudian membuat masjid yang berada di tepi pantai, dan berkembang menjadi sebuah klenteng yang dikenal dengan nama Klenteng Sam Poo Kong.
Bangunan inti dari kelenteng adalah sebuah Goa Batu yang dipercaya sebagai tempat awal mendarat dan markas Laksamana Cheng Ho beserta anak buahnya ketika mengunjungi Pulau Jawa di tahun 1400-an. Goa Aslinya tertutup longsor pada tahun 1700-an, kemudian dibangun kembali oleh penduduk setempat sebagai penghormatan kepada Cheng Ho.
Kini di dalam goa tersebut terdapat Patung Cheng Ho yang dilapisi emas dan digunakan untuk ruang sembahyang dalam memohon doa restu keselamatan, kesehatan dan rejeki. Selain bangunan inti goa batu tersebut, yang dindingnya dihiasi relief tentang perjalanan Cheng Ho dari daratan China sampa ke Jawa, di area ini juga terdapat satu kelenteng besar dan dua tempat sembahyang yang lebih kecil.
Tempat tempat sembahyang tersebut dinamai sesuai dengan peruntukannya, yaitu kelenteng Thao Tee Kong yang merupakan tempat pemujaan Dewa Bumi untuk memohon berkah dan keselamatan hidup. Sedangkan tempat pemujaan Kyai Juru Mudi berupa makam juru mudi kapal yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho.
Tempat pemujaan lainnya dinamai kyai Jangkar, karena di sini tersimpan jangkar asli kapal Cheng Ho yang dihias dengan kain warna merah pula. Di sini digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping, yaitu mendoakan arwah yang tidak bersanak keluarga yang mungkin belum mendapat tempat di alam baka.
Lalu ada tempat pemujaan Kyai Cundrik Bumi, yang dulunya merupakan tempat penyimpanan segala jenis persenjataan yang digunakan awak kapal Cheng Ho, serta Kyai dan Nyai Tumpeng yang mewakili temapt penyimpanan bahan makanan pada jaman Cheng Ho.
Pengunjung datang kesini selain untuk berziarah, mereka biasanya melakukan ritual yang dinamakan Ciam Si yaitu agar dapat melihat suatu keberuntungan di masa depan. Ritual Ciam Si, adalah membakar hio atau dupa di dalam gua batu lalu melemparkan kepingan didepan altar sembahyang yang ditandai dengan Yin dan Yang. Apabila hasil lemparan tersebut salah satu keping terbuka dan satunya lagi tertutup, dipercaya pengunjung akan memperoleh keberuntungan.

Cara lain, peziarah melemparkan sekumpulan batang bambu secara acak, lalu apabila terdapat batang bambu yang jatuh di hadapan altar sembahyang, batang bambu tersebut tinggal diserahkan kepada petugas/ juru kunci yang ada disana. Petugas/juru kunci mengambil selembar kertas yang telah dinomori 1 sampai dengan 28. Nomor yang diambil tentu disesuaikan dengan batang bambu yang jatuh. Kertas yang bernomor tadi adalah berisi syair-syair dengan maknanya akan diterjemahkan oleh juru kunci. Dipercaya itu merupakan gambaran bagian dari peruntungan nasib pengunjung Ciamshie di masa depan.
Setelah menelusuri kompleks klenteng Sam Po Kong, jangan lupa untuk berfoto ria karena banyak sekali tempat-tempat yang Instagramable di sini. Selain itu terdapat tempat sewa pakaian khas Cina yang terdapat di dekat loket utama. Pilihan pakaian lengkap untuk anak dan dewasa.

Sumber :

Kelenteng Sam Poo Kong, Gedung Batu


http://travel.kompas.com/read/2017/05/06/091700727/3.hal.yang.wajib.dilakukan.bila.berkunjung.ke.sam.poo.kong.semarang