Walaupun di Jakarta sudah banyak rumah makan baru dengan menu-menu yang modern, tetap saja warga Jakarta tidak akan meninggalkan resto-resto jadul yang masih menyajikan menu-menu khasnya. Rasanya yang otentik membuat para pelanggan sudah pindah ke lain hati. Selain pengunjung setia yang sekarang sudah cocok disebut opa dan oma, banyak juga pelanggan baru dari kalangan millennials yang ingin merasakan kuliner tempo dulu yang melegenda. Yuk, Piknikers kita cicipi bersama.

1. Restoran Trio

Hasil gambar untuk restoran trio
Restoran Trio adalah salah satu rumah makan tertua di Jakarta, didirikan sejak tahun 1947. Restoran Trio berlokasi di Jalan RP Soeroso Nomor 29 A, Gondangdia, Menteng. Bangunannya yang berwarna hijau dan interiornya yang tidak berubah, membuat kita serasa berada di jaman dulu. Pemilik Restoran Trio, Lam Hong Kie (68) alias Effendy Sumartono, mewarisi restoran yang berdiri sejak 1947 itu dari orangtuanya. Yang menjadi ciri khas dari Restoran Trio adalah makanan khas Canton. Masakan Canton tidak lepas dari saus tiram, minyak wijen, kacang kedelai hitam yang diasinkan (tausi), jahe, bawang-bawangan, dan tauco. Terdapat kurang lebih 200 jenis masakan yang dapat dipesan oleh pelanggan.

2. Oasis Restaurant

Hasil gambar untuk oasis restaurant cikini jakarta
Nama aslinya adalah Oasis Grand Rijsttafel Heritage. Oasis diambil dari Oase mata air padang pasir dan gedung ini sudah dibangun sejak tahun 1928 milik miliuner Belanda yang punya perkebunan teh, karet dan kina. Oasis Restoran dulunya merupakan rumah milik F Brandenburg van Oltsende yang berarsitektur kolonial Belanda. Cara penyajian makanannya pun berbeda dengan biasanya karena ditawarkan dalam bentuk Rijstafel, yang dihidangkan secara berurutan dengan beragam kuliner nusantara. Rijstafel berkembang sejak kolonial Hindia Belanda yang memadukan etika dan tata cara perjamuan resmi Eropa dengan kebiasaan makan penduduk Indonesia.
Lokasi: Jl. Raden Saleh Raya No.47, RT.1/RW.4, Cikini, Jakarta Pusat. Namun sayangnya restoran ini sudah ditutup secara permanen.

3. Gado-gado Bon Bin

Hasil gambar untuk gado gado bonbin
Tidak jauh dari Restoran Trio, kita bisa berkunjung ke Gado-Gado Bon Bin. Disebut Gado-gado Bon Bin karena dahulu di daerah Cikini, tepatnyadi kompleks Taman Ismail Marzuki terdapat kebun binarang, yang sekarang berada di Ragunan.
Rumah makan tersebut berada di Jalan Cikini 4 Nomor 5. Pemilik dari Gado Gado BonBin ini adalah Oma Lanny yang sampai sekarang masih sibuk ikutan melayani pelanggan dibantu dengan putranya dan satu asisten
Bumbu kacang Gado-gado ini berbeda dengan dengan yang lain karena dibuat dari kacang tanah Vietnam yang disangrai dan dikupas terasa halus, tidak terlalu pekat dan tidak ada rasa pahit. Enak banget, apalagi ditambah krupuk udang sebagai pelengkap.
Selain gado-gado disini juga menu lain yaitu, asinan, mie baso, nasi rames, lontong cap gomeh, es dawet, es kelapa muda dan lain-lain.

4. Bakmi Gang Kelinci

Hasil gambar untuk bakmi gang kelinci
Walaupun sudah mempunyai banyak cabang, bakmi Gang Kelinci yang pertama berdiri di Pasar Baru masih menjadi incaran para pelanggannya. Dibuka pertama kali tahun 1957, saat Bapak Hadi Sukiman menjual bakmi dengan gerobak sederhana di Jl. Pintu Besi Pasar Baru, di depan Globe Theater (Moyen). Pada tahun 1962, gerobak itu dipindahkan ke Jl. Belakang Kongsi No. 16 Pasar Baru dan mulai dikenal dengan Bakmi Gang Kelinci (BGK) atau Bakmi si Jangkung. Pada tahun 1978, Bakmi Gang Kelinci pindah ke lokasi baru yang berjarak 15 meter dari lokasi sebelumnya. Selain Mie Ayam Bakmi Gang Kelinci menyajikan menu-menu nasi goreng spesial, ifu mie, cah ayam, dim sum, nasi goreng porsi mini, dan nasi capcay porsi mini serta masakan lainnya. Lokasi di Jl. Kelinci Raya No. 1-3, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

5. RM Pondok Djaja dan RM Sepakat

Hasil gambar untuk RM Pondok Djaja dan RM Sepakat
Kedua rumah makan itu adalah rumah makan minang tertua di Jakarta yang buka di tahun yang sama yakni pada tahun 1969.
Ikan bawal bakar juga jadi salah satu menu favorit di RM Sepakat. RM Pondok Djaja pertama kali buka di Jalan Krekot Bunder, kemudian pindah ke Jalan Hayam Wuruk dan kini berada di Jalan Hasyim Ashari No 13 B. Sang koki memasak untuk Pondok Djaja dari awal buka hingga kini berusia 85 tahun. Pemilik rumah makan ini adalah Sjoffian Chaedir (83) tahun. Resep dan cara masak tradisional adalah rahasia suksesnya RM Pondok Djaja. Dari 15 menu yang tersaji di etalase, bukan rendang yang paling diincar.Menu paling favorit di sini adalah ayam goreng, lengkap dengan serundeng yang harum dan khas. Ayam goreng yang dimakan bersama dengan sambal petai.

Hasil gambar untuk rm sepakat blok m

RM Sepakat yang terletak di sebelah Blok M Square juga merupakan rumah makan padang jadul yang masih bertahan. Pertama kali buka restaurant berada di Panglima Polim jualan kue-kue dan nasi bungkus, kemudian pindah ke Blok M pada tahun 1969. Ibu Yuniar menjadi penerus bisnis orangtuanya. Gulai gajebo, alias gulai sandung lamur asam padeh adalah salah satu lauk otentik khas Padang yang keberadaannya ‘terancam punah’ di Jakarta, menjadi sajian khas rumah makan padang ini.

6. Kopi Es Tak Kie

Hasil gambar untuk Es Tak Kie
Setelah menikmati menu-menu jadil di restaurant, mari beralih ke tempat ngopi jadul yang menjadi favorit banyak orang. Sebelum muncul kedai kopi kekinian, Kopi Es Tak Kie sudah menjadi favorit sejak tahun 1927. Terletak di Jalan Gajah Mada, kawasan Pancoran, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.Kedai Kopi Tak Kie ini juga sudah melewati masa penjajahan Belanda, Jepang, dan masih berdiri sampai saat ini. Nama Tak Kie sendiri berasal dari kata “Tak” yang artinya orang yang bijaksana, sederhana dan tidak macam-macam. Sementara kata “Kie” berarti mudah diingat orang. Pemberian nama ini selanjutnya bisa diartikan kedai kopi sederhana yang menyimpan kebijaksanaan dan mudah diingat orang. Es kopi Tak Kie merupakan campuran kopi dari jenis kopi kopi Robusta maupun Arabika dari Lampung, Toraja, sampai Sidikalang. Jika berkunjung pada hari Minggu, siap-siap saja tidak kebagian tempat karena penuhnya kedai oleh pengujung.

7. Ragusa Es Italia

Hasil gambar untuk ragusa es italia
Es Krim Ragusa pertama kali didirikan oleh dua orang berkebangsaan Italia yang bernama Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa yang datang ke Batavia (Jakarta) sekitar tahun 1930. Awalnya Luigie dan Vincenzo hanya berniat untuk coba-coba saja, dan ternyata diluar dugaan Es krim buatan mereka banyak diminati banyak orang, melihat kondisi ini akhrnya mereka pun sepakat untuk membuka toko Es Krim Khas Italia yang mereka dirikan di Jalan Pos (sekarang jalan Naripan), Bandung dan kemudian mereka kembangkan lagi di Pasar Gambir (Jakarta Fair) sejak tahun 1932. Setelah beberapa waktu berjalan, ternyata lokasi tersebut kurang ramai hingga akhirnya Luigie dan Vincenzo mencoba membuka Kafe Es Krim di Citadelweg (sekarang jalan Veteran I No. 10)
Yang beda dari Es Krim Ragusa Italia ini adalah rasanya yang tidak terlalu manis jika di bandingkan dengan es krim yang lain. Selain itu, aroma dan cita rasa es krim ini tidak berubah sejak kafe ini berdiri. Pemilik kafe ini benar-benar menjaga cita rasa dan aroma yang diwariskan dari pendiri kafe E Kim Ragusa. Hal unik lain dari Es Krim Ragusa ini adalah ia terbuat dari susu segar dan diproses tanpa menggunakan pengawet sehingga kondisi es krimnya sedikit lebih cepat mencair dari biasanya. Menu favorit di sini adalah Spaghetti Ice Cream yang bentuknya unik, seperti mie.
Lokasi: Jalan Veteran I No.10, Gambir, Jakarta Pusat

Sumber :
http://travel.kompas.com/read/2017/06/22/230600527/bertahan.sejak.dulu.ini.5.rumah.makan.legendaris.di.jakarta